Selasa, 12 Juli 2011

Kisah Sebatang Bambu

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya.

Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu. Dia berkata kepada batang bambu,” Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?”
Batang bambu menjawabnya, “Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu.” Sang petani menjawab, “Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur.”

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam….. , kemudian dia berkata kepada petani, “Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?”

Petani menjawab batang bambu itu, ” Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.”

Akhirnya batang bambu itu menyerah, “Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki.” Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

HIKMAH
Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya?

Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, Allah sedang membuat kita sempurna untuk di pakai menjadi penyalur berkat. Dia sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya. Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Allah tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Allah, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?

Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, ” Ini aku Allah, perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki.”
Intinya kita Ikhlas menyerahkan diri kepada Allah. biarlah Dia yang mengatur hidup kita ini karena yang dikehendaki oleh Allah adalah yang terbaik untuk kita jalani.

sumber : dodyekaputra.com

Senin, 11 Juli 2011

Ikhlas Itu Kini dan Nanti

Seorang suami tiba-tiba bercerita kepada temannya bahwa dia sebetulnya tidak mencintai istrinya… WHAT?
Betapa terkejutnya si teman, mengingat laki-laki yang berdiri di hadapannya tersebut kini telah memiliki empat anak, dan dia mengaku tidak mencintai istrinya… ”Istriku ternyata tidak cantik”, keluhnya kemudian.


Sungguh jika tidak ingat bahwa laki-laki yang sedang curhat itu adalah teman lamanya, ingin rasanya dia menonjok si laki-laki hingga terbanting.
Bagaimana bisa seorang suami tidak mencintai istri yang telah memberinya empat orang anak. Dan hanya karena merasa istrinya tidak cantik…
“Dulu, saat ta’aruf dengan istriku. Aku memilih untuk tidak melihat wajahnya. Untuk menjaga keikhlasan, bahwa aku berniat menikahinya bukan karena faktor kecantikannya. Aku baru tahu wajah istriku saat bertemu di pelaminan, dan betapa terkejutnya aku, karena dia sama sekali tidak cantik…”, keluhnya panjang lebar.
Mendengar cerita laki-laki tersebut, si teman mendengus kesal. Alangkah bodohnya laki-laki ini, benar-benar bodoh…
Apa tadi katanya? Dia sengaja tidak melihat wajah calon istrinya untuk menjaga keikhlasan. Memangnya ada tuntunan agama yang menyuruh demikian? Yang ada justru kita disuruh untuk melihat dengan seksama calon pendamping hidup kita, dan itu sangat diperbolehkan. Nabi Muhammad SAW di saat ta’aruf (Perkenalan) menganjurkan calon suami melihat calon istrinya, “Lihatlah calon istrimu, karena yang demikian itu lebih wajar mendukung kelanggengan hubungan kalian berdua.” ( diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi dan Al-Nasa’i).
Sekarang, setelah bertahun-tahun menikah dia mengeluhkan sesuatu yang seharusnya sudah dia pertimbangkan sejak sebelum menikah dulu.

Alasannya menjaga keikhlasan tadi jadi tidak relevan mengingat sekarang dia telah menjalani tahun-tahun pernikahannya dengan tidak ikhlas, tidak menerima istrinya dengan apa adanya… Padahal menurut si teman, istri laki-laki tersebut manis dan baik hati, tidak ada yang salah dengan dirinya…

Memaknai Keikhlasan

“Semua amal itu hanya tergantung dengan niatnya, dan bagi seseorang hanyalah apa yang diniatinya. Barang siapa yang hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya untuk suatu hal duniawi maka ia akan mendapatkannya, atau untuk seorang wanita maka iapun akan menikahinya. Maka hijrahnya akan sampai pada apa yang ia bermaksud hijrah padanya.” (Al-Hadits, riwayat Al-Bukhari, Muslim, Al-Imam Abu Dawud dll. dari Umar bin Al-Kaththab)

Sesungguhnya dasar amalan kita diterima oleh Allah SWT adalah keikhlasan. Dengan keikhlasan segala sesuatu yang kita jalani akan menjadi menyenangkan. Seorang suami yang ikhlas akan bisa menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya, begitupun sebaliknya…

Ketika kita ikhlas dengan jodoh yang telah Allah berikan pada kita, maka Allah akan ridha dan memberikan kemudahan-kemudahan kepada kita. Kemudahan saat kita berinteraksi dalam kehidupan rumah tangga. Karena energi keikhlasan lah, kehidupan kita menjadi tenang. Kita yakin bahwa Allah melindungi kita dan menjaga kehidupan rumah tangga kita…

Ikhlas atau tidaknya kita dalam menerima apa yang telah Allah berikan kepada kita, maka yang tahu hanyalah kita dan Allah SWT, termasuk dalam urusan jodoh. Agar kita bisa ikhlas menerima pasangan kita, maka yang pertama kita harus lebih mendekatkan diri kita pada Allah SWT. Kedua, kita juga harus senantiasa memperbaiki serta meluruskan niat kita dengan meniatkan segala yang kita lakukan karena Allah. Sehingga ketika kita melangkah, maka kita yakin bahwa Allah SWT akan selalu membersamai kita. Ketiga, membiasakan diri untuk ikhlas dengan menghilangkan prasangka-prasangka yang timbul terhadap pasangan kita. Sehingga apapun yang ada dalam diri pasangan kita, akan kita terima dengan penuh keikhlasan dan lapang dada…

Ketika kita yakin bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik pada kita, meskipun mungkin bagi kita adalah hal-hal yang menyakitkan sekalipun, maka Allah akan memberikan nikmat yang lebih. Dengan menerima apapun yang dimiliki oleh pasangan kita, baik kekurangan maupun kelebihannya, maka semoga akan terbentuk keluarga yang sakinah. Karena sejatinya, kekurangan-kekurangan yang dimiliki pasangan kita merupakan ladang amal bagi kita yang menuntut kesabaran dalam diri kita. Dan mungkin tanpa kita sadari, kekurangan-kekurangan itu adalah anugerah yang luar biasa dari Allah SWT dengan memberikan kesempatan kepada kita untuk saling memperbaiki kekurangan masing-masing. Sedangkan kelebihan-kelebihan yang ada dalam diri pasangan kita, maka itu adalah nikmat dari Allah yang wajib kita syukuri…

Oleh : Hani Fatma Yuniar , tulisan ini di muat di Majalah Salimah Edisi Juni 2011

Sabtu, 05 Februari 2011

Wahai Jiwa yang Lemah!

Wahai jiwa yang lemah…
Telah berapa banyak kesombongan yang mengotori hatimu.
Telah berapa banyak riya dan ketakabburan yang hadir dan melekat di jiwamu…
Kau merasa paling suci…
Kau merasa paling sempurna…
Kau merasa telah memiliki setiap kebaikan yang seharusnya ada di tiap diri manusia…

Wahai jiwa yang lemah…
Dimana keikhlasan itu???
Kau mengatakan dirimu ikhlas ketika melakukan sesuatu…
Lantas kau tersenyum ketika seseorang memuji perbuatanmu…
Lalu masihkah itu ikhlas namanya???
Kau meyakinkan dirimu bahwa kau ikhlas menolong seseorang…
Lantas beberapa saat kemudian kau mengingat-ingat kebaikanmu kembali..
Lalu katakan padaku, masihkah ada ikhlas itu????

Wahai jiwa yang lemah…
Berapa banyak hak orang lain kau abaikan…
Merasa dirimu yang paling butuh perhatian
Padahal masalah yang kau hadapi begitu sangat kecilnya dibanding orang-orang yang direnggut haknya.
Kau yang mengatakan penting untuk memberikan perhatian kepada orang lain…
Tapi mana??? Saat sedikit saja cobaan datang kepadamu, kau langsung tak peduli.
Sibuk memikirkan dirimu dan nasibmu…
Sibuk mempertanyakan mengapa Allah menimpakan cobaan itu padamu…

Wahai jiwa yang lemah…
Betapa bangganya kau dengan semua yang telah kau raih…
Lantas berpura-pura bersikap rendah hati dihadapan orang lain…
Betapa angkuhnya dirimu!!!
Tak sadarkah kau???
Atau mungkin kau menikmatinya???
Padahal kebanggaan itu hanya sebagian kecil akibat usahamu…
Sisanya adalah rahmat dari Sang Pencipta…

Wahai jiwa yang lemah…
Kau bekerja dan berusaha demi meraih sesuatu…
Kau katakan ini untuk membahagiakan kedua orang tuamu…
Padahal di hatimu terbersit keinginan untuk mendapat pujian…
Merasa bangga kau lebih baik dari saudaramu yang lain…
Tersipu malu ketika dipuji sanak keluargamu…
Karena memang itulah yang sebenarnya kau cari…
Dan kau menikmatinya…

Wahai jiwa yang lemah…
Tak sadarkah kau dengan semua kelemahanmu itu??
Sudah berapa lama kau tak menangis dalam sujudmu krn lemahnya jiwamu??
Kau hanya sering menangis saat masalah menimpamu…
Padahal ini adalah masalah terbesarmu!!!!
Ketidaktulusan dalam dirimu…
Kesombongan dalam hatimu…
Ketidakpedulian dalam jiwamu…

Bahkan Rasul pun menangis di sujud-sujudnya…
Bahkan sahabatpun menangis setiap saat karena takut jika ada kesombongan dihatinya…


Kelalaian itu telah membutakan hatimu,kawan…
Kesombongan itu telah membekukan jiwamu…

Kumohon…kumohon sadarilah….




~Untuk yang berjiwa lemah, diriku…~

Segera Miliki!!!


Segera Miliki!!!
Majalah Al-Intima'
Spirit Kebangkitan Dakwah

Telah terbit edisi 13. Pesan sekarang juga, sebelum kehabisan!!!

Infaq : Rp.6000,-/eks

Jumat, 04 Februari 2011

Ciri Orang Besar Memulai Perubahan


Pagi yang indah selalu dihadirkan Allah SWT untuk kita yang memiliki keterpautan hati dan bisa merasakan betapa besar Cinta-Nya pada hambanya. Mata yang masih bisa melihat Keindahan itu, udara yang masih bisa kita hirup, aliran darah dan denyut nadi yang masih bisa kita rasakan, menunjukkan jika kita masih diberi eksistensi oleh-Nya. Rasulullah SAW yang melihat umatnya dari syurga Firdaus-Nya, mendoakan kita yang tak kenal letih memperjuangkan risalah dakwah untuk kejayaan Islam di Bumi Allah ini. Semoga kelak kita semua dikumpulkan bersama Baginda Rasul dan para keluarga serta sahabat.

Terkadang kita ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri kita, baik itu merupakan kesalahan, keburukan, maupun kelalaian. Namun ternyata sikap kita yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah. Banyak orang yang menginginkan orang lain berubah, tapi ternyata yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud. Kita sering melihat orang yang menginginkan Indonesia berubah. Tapi, pada saat yang sama, ternyata keluarganya ‘babak belur’, di kampus tak disukai, di lingkungan masyarakat tak bermanfaat. Itu namanya terlampau muluk.

Jangankan mengubah Indonesia, mengubah keluarga sendiri saja tidak mampu. Banyak yang menginginkan situasi negara berubah, tapi kenapa merubah sikap adik saja tidak sanggup. Jawabnya adalah: kita tidak pernah punya waktu yang memadai untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri. Tentu saja, jawaban ini tidak mutlak benar. Tapi jawaban ini perlu diingat baik-baik. Siapa pun yang bercita-cita besar, rahasianya adalah perubahan diri sendiri. Ingin mengubah Indonesia, caranya adalah ubah saja diri sendiri. Betapapun kuatnya keinginan kita untuk mengubah orang lain, tapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, semua itu menjadi hampa. Setiap keinginan mengubah hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian ucapan dengan tindakan kita.

Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois. Pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnya juga hanya untuk diri sendiri. Tapi yang dimaksud di sini adalah memikirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas. Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun pondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikirkan genteng, memikirkan tiang yang kokoh, akan tetapi pondasinya tidak pernah kita bangun. Jadi yang merupakan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesungguhan untuk mengubah dirinya, yang diawali dengan keberanian melihat kekurangan diri.

Pemimpin mana pun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya. Orang sukses mana pun bakal rubuh kalau dia tidak punya keberanian untuk mengubah dirinya. Kata kuncinya adalah keberanian. Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu mudah, tapi, tidak sembarang orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang-orang yang sukses sejati. Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan oleh orang yang tidak punya apa-apa sekali pun. Tapi, kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya, inilah calon orang besar.

Mengubah diri dengan sadar, itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak berucap sepatah kata pun untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, kegigihan kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat dan merasakannya. Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tapi percayalah, itu akan membekas dalam benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang simpati dan terdorong untuk juga melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas, dan akhirnya semakin besar seperti bola salju. Perubahan bergulir semakin besar.

Jadi kalau ada orang yang bertanya tentang sulitnya mengubah keluarga, sulitnya mengubah anak, jawabannya dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka tidak mau berubah. Kalau kita sebagai ustadz, atau kyai, jangan banyak menyalahkan santrinya. Tanya dulu diri sendiri. Kalau kita sebagai pemimpin, jangan banyak menyalahkan bawahannya, lihat dulu diri sendiri seperti apa. Kalau kita sebagai pemimpin negara, jangan banyak menyalahkan rakyatnya. Lebih baik para penyelenggara negara gigih memperbaiki diri sehingga bisa menjadi teladan. Insya Allah, walaupun tanpa banyak berkata, dia akan membuat perubahan cepat terasa, jika berani memperbaiki diri. Itu lebih baik dibanding banyak berkata, tapi tanpa keberanian menjadi suri teladan. Jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri sendiri. Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos kerja makin sungguh-sungguh, ibadah kian tangguh. Ini akan disaksikan orang.

Membicarakan dalil itu suatu kebaikan. Tapi pembicaraan itu akan menjadi bumerang ketika perilaku kita tidak sesuai dengan dalil yang dibicarakan. Jauh lebih utama orang yang tidak berbicara dalil, tapi berbuat sesuai dalil. Walaupun tidak dikatakan, dirinya sudah menjadi bukti dalil tersebut. Mudah-mudahan, kita bisa menjadi orang yang sadar bahwa kesuksesan diawali dari keberanian melihat kekurangan diri sendiri. Jadi teringat kutipan kata bijak dari sebuah buku seperti ini:

Jadilah kau sedemikian kuat sehingga tidak ada yang dapat mengganggu kedamaian pikiranmu

Lihatlah sisi yang menyenangkan dari setiap hal

Senyumlah pada setiap orang

Gunakanlah waktumu sebanyak mungkin untuk meningkatkan kemampuanmu sehingga kau tak punya waktu lagi untuk mengkritik orang lain

Jadilah kau terlalu besar untuk khawatir dan terlalu mulia untuk meluapkan kemarahan

Satu-satunya tempat dimana kita dapat memperoleh keberhasilan tanpa kerja keras adalah hanya dalam kamus.

Di awal tahun, awal bulan dan awal minggu (Jum’at adalah awal minggu bagi umat Islam), ayo kita semua mulai memperbaiki diri. Suatu karya besar selalu diciptakan oleh orang-orang yang berfikir besar. Namun perubahan besar pasti dimulai dari satu langkah kecil, dan itu dimulai dari diri kita masing-masing.

Wallahualam bishowab

- dakwatuna.com

Sabtu, 23 Oktober 2010

Substitusi Nukleofilik Aromatik... Ada kah?

Substitusi Elektrofilik Aromatik?? "Hmmm...biasa...." Substitusi Nukleofilik Aromatik?? "Mmmm.... mmg bisa ya??? SN berapa tuh? 1 atau 2??"
Membingungkan sih, kl ditanya gimana mekanisme reaksi SN buat senyawa aromatik. Apalagi kl pemahaman kita masih terbatas di SN senyawa alifatik pada umumnya. Rupa-rupanya, senyawa aromatik punya cara sendiri dalam bereaksi SN. Bisa dibilang, SN itu hanya namanya saja, tapi mekanismenya tidak. Mau tau? Silahkan dibaca....

Substitusi nukleofilik yang paling sederhana pada cincin aromatic, seperti pada penggantian bromide dari bromobenzena dengan ion hidroksida, tidak dapat terjadi.

Perhatikanlah-mekanisme reaksi ini salah! Tidak ada reaksi yang tepat. Kau mungkin akan bertanya, “mengapa tidak?” reaksinya terlihat benar, dan jika cincin dijenuhkan, reaksinya memang benar.

Reaksi ini adalah reaksi SN2, dan kita tahu bahwa serangan yang terjadi pada ikatan C-Br harus terjadi dari belakang, dimana cuping yang paling besar dari orbital σ* berada. Reaksi ini benar untuk cincin alifatik karena atom karbonnya adalah tetrahedral dan ikatan C-Br tidak berada sebidang dengan cincin. Substitusi pada bromine ekuatorial berjalan sebagai berikut:

Tapi pada senyawa aromatic, ikatan C-Br berapa sebidang dengan cincin dengan atom karbon trigonal. Untuk menyerang dari belakang, nukleofil harus menyerang dari cincin benzene dan menginversi atom karbon dengan jalan yang tidak masuk akal. Reaksi ini tidak mungkin terjadi!

Ini contoh lain pada aturan umum.
Jika SN2 tidak mungkin, bagaimana dengan SN1? Hal ini mungkin saja, namun berlangsung kurang baik. Reaksi ini harus melibatkan pelepasan gugus pergi dengan sendirinya dan pembentukan kation aril. Semua kation yang telah kita jumpai dalam reaksi SN1 berbentuk planar dengan orbital p kosong. Kation ini planar, namun orbital p-nya penuh karena menjadi bagian dalam cincin aromatic, dan orbital kosong adalah orbital sp2 yang berada di bagian luar cincin.

Meskipun dalam faktanya, hanya gugus pergi yang paling baik, yaitu molekul N2, yang dapat menjalani reaksi SN1.


SUBSTITUSI NUKLEOFILIK AROMATIK (MEKANISME ADISI-ELIMINASI)

Bayangkan suatu siklik β-fluoro-enon bereaksi dengan amina sekunder dalam reaksi substitusi konjugasi. Produk diperoleh melalui reaksi adisi untuk membentuk enolat, diikuti oleh kembalinya muatan negatif untuk melepas ion fluorida.

Sekarang bayangkan juga pada reaksi yang sama dengan dua tambahan ikatan rangkap pada cincin. Substitusi konjugasi menjadi substitusi aromatic nukleofilik.

Mekanisme ini disertai oleh adisi pada nukleofil diikuti oleh eliminasi gugus pergi, inilah yang disebut mekanisme adisi-eliminasi. Tidak hanya gugus karbonil – setiap gugus penarik elektron dapat melakukannya. Syaratnya hanyalah bahwa elektron harus dapat keluar dari cincin menuju gugus penstabil anion. Berikut adalah contoh gugus nitro yang berada pada posisi para.

Hal-hal yang mempengaruhi berlangsungnya reaksi ini ialah Nukleofil (OH-), gugus pergi (Cl-), gugus penstabil anion (NO2), dan posisi para-. Nukleofilnya adalah nukleofil yang baik, muatan negatif dapat didorong melewati atom oksigen pada gugus nitro, dan klorida adalah gugus pergi yang baik.
Tipe substitusi nukleofilik aromatic harus mempunyai:
- nukleofilik oksigen, nitrogen atau sianida
- gugus pergi berupa halide
- gugus karbonil, nitro atau sianida berada pada posisi orto atau para terhadap gugus pergi.

a. Posisi Gugus Penstabil Elektron Terhadap Calon Gugus Pergi
Gugus penstabil elektron, seperti nitro atau karbonil dalam anion, harus berada pada posisi orto atau para untuk memberikan efeknya. Ilustrasi yang baik tentang ini digambarkan pada penggantian selektif satu dari dua gugus klorin, dimana yang lepas adalah klorin yang berada pada posisi orto, sedangkan pada posisi meta tidak dilepaskan.

Mekanismenya berjalan baik jika kita menyerang pada klorin dengan posisi orto yang kemudian muatan negatifnya dapat didorong masuk ke gugus nitro. Dan hal ini tidak dapat dilakukan jika kita menyerang klorin pada posisi yang lain.

b. Gugus Pergi dan Mekanismenya
Sebelumnya kita telah menunjukkan substitusi nukleofilik aromatic dengan florida sebagai gugus pergi. Florida bekerja dengan baik sebagai gugus pergi, demikian halnya pada senyawa 2-nitro-fluorobenzena yang bereaksi baik dengan berbagai nukleofil, contohnya:

Reaksi yang sama terjadi dengan 2-nitrohalobenzena lainnya, namun kurang efektif. Senyawa fluoro bereaksi sekitar 102-103 kali lebih cepat dari senyawa kloro- atau bromo-, dan iodo- bereaksi lebih lambat.

Hal ini seharusnya mengherankan. Ketika kita mengamati substitusi nukleofilik lain seperti pada gugus karbonil atau pada karbon jenuh, kita tidak pernah menggunakan fluorida sebagai gugus pergi! Ikatan C-F sangat kuat – paling kuat dari semua ikatan tunggal dengan karbon – dan ikatan ini sulit dilepaskan.
Jadi mengapa fluorida lebih baik digunakan dalam substitusi nukleofilik aromatic dan mengapa fluorida bereaksi lebih cepat dari pada halogen lainnya? Kita tidak mengatakan bahwa fluorida adalah gugus pergi yang lebih baik dalam substitusi nukleofilik aromatik. Penjelasannya bergantung dari pemahaman kita terhadap mekanisme reaksi.

Mekanisme yang telah kita pelajari sebelumnya bahwa reaksi ini berlangsung 2 tahap, adisi dan eliminasi. Dalam mekanisme dua-tahap, satu tahap lebih lambat dan merupakan tahap penentu kecepatan. Tahap lainnya tidak begitu mempengaruhi kecepatan. Kamu mungkin menebak bahwa, dalam mekanisme substitusi nukleofilik aromatic, tahap pertamalah yang lebih lambat karena pada tahap ini terjadi penggangguan aromasitas. Tahap kedua mengembalikan aromasitas dan berjalan lebih cepat. Pengaruh dari fluorida, atau gugus pergi lainnya, semestinya ada pada tahap pertama. Seberapa baik gugus pergi itu lepas, bukan menjadi masalah. Kecepatan pada tahap kedua – tahap dimana fluorida lepas – tidak memberikan pengaruh berarti pada kecepatan reaksi.

Fluorida, pada faktanya, memperlambat tahap kedua (dibandingkan dengan Cl-), tapi mempercepat tahap pertama oleh efek induksinya yang besar. Fluor adalah atom yang paling elektronegatif dan menstabilkan intermediate anionic, membantu penerimaan elektron oleh cincin benzene.

c. Pengaktifan Substituent Penstabil-Anion
Gugus nitro adalah gugus terbaik dalam menstabilkan intemediat anionic. Gugus penstabil lainnya termasuk karbonil, sianida, dan gugus yang mengandung sulfur seperti sulfoksida dan sulfona.
Berikut diberikan perbandingan kecepatan untuk reaksi yang sama tapi dengan gugus pengaktif yang berbeda. Mekanisme tiap reaksi sama, yang berbeda hanyalah kekuatan penarik elektron dari gugus pengaktif. Kita telah mengetahui bahwa tahap pertama adalah tahap penentu laju reaksi. Symbol Z mewakili gugus penstabil-anion. Nilai kecepatan relatif dibandingkan dengan Z sebagai nitro.



Tiap senyawa bereaksi lebih lambat dari senyawa yang mengandung gugus nitro.

Sumber : Clayden, J., Organic Chemistry, McGraw-Hill Companies, New York.

Senin, 09 Agustus 2010

Hijab itu... Semakin Tak Terlihat

Tulisan ini hanya sepenggal curahan hati, yang mungkin meluap akibat rasa malu...
...................................................................
Saya tidak terlalu aktif untuk setiap kegiatan dakwah di lingkup kampus. Saya lebih merasa nyaman beraktifitas dan fokus pada dakwah di lingkup fakultas. Apalagi kegiatan di luar kampus juga menyita waktu. Jadi, kadang saya tidak berani mengambil amanah di luar fakultas karena takut tidak bisa mengatur waktu.
Tapi kali ini, karena kegiatannya di masa liburan, saya pun mengusahakan untuk ikut berpartisipasi, membantu sebisa saya.
Namun.... ada hal yang membuat saya kecewa...


Saya akui semangat teman-teman dalam bekerja luar biasa. Kadang saya malu ketika membandingkan diri saya yang tidak terlalu banyak berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Kalaupun saya ikut membantu, yah... paling hanya hal-hal kecil, yang tidak terlalu menuntut banyak pengorbanan.
Sms-sms yang sering saya dapatkan berupa kalimat penyemangat dalam dakwah, kata-kata seperti "Semangat,ukh!" atau "Demi dakwah!!" yang selalu diberikan untuk menyemangati satu sama lain, terdengar begitu hangat.

Tapi, sungguh saya harus kembali malu... bukan karena melihat semangat teman-teman yang begitu besar, atau karena menyaksikan pengorbanan teman-teman yang luar biasa, tapi saya malu... karena hijab itu semakin tak terlihat.
Saya agak kaget ketika baru saja datang ke tempat teman-teman bekerja. Rupanya tempat ikhwan dan akhwatnya cukup dekat. Saya langsung bertanya pada diri sendiri "Lho, koq dekat sekali?". Tapi saya mencoba berprasangka baik, "mungkin karena sama-sama menggunakan printer, jadi jaraknya tidak bisa terlalu jauh..."
Saya pun ikut bergabung di tengah-tengah akhwat yang lain. Mencoba membantu sebisa saya...

Namun tanda tanya semakin menggelayut ketika di depan mata, saya harus menyaksikan interaksi yang tak pantas dan tak wajar antara ikhwan dan akhwat. Senda gurau yang begitu lepas, tawa dan senyum yang dibiarkan begitu saja, dan kata yang menurutku tak pantas di ucapkan antara seorang ikhwan dan akhwat.
Tidak semuanya, tapi beberapa...

Andai saja di perkumpulan itu tak ada bahasa "akhi" atau "ukhti", dan perempuannya tidak memakai kerudung yang panjang, maka saya tidak akan tahu bahwa orang-orang didalamnya adalah manusia-manusia tertarbiyah...

Inikah yang selama ini kita dapatkan??? Kebebasan berinteraksi tanpa ada rasa malu. Lalu kemana hijab itu???
Sebegitu semangatnya kah kita dalam menjalankan amanah, hingga lupa akan esensi dari amanah itu sendiri?

Saya tidak menyesal berada di jama'ah ini, apalagi berfikir untuk lari. Tidak. Saya hanya malu dengan orang-orang di dalamnya.
Tidak semuanya, tapi beberapa...

Saya tahu, ada yang salah sejak awal. Dan kesalahan itu perlu kita benahi bersama. Mungkin kesalahan itu juga ada pada diri saya. Mungkin saja saya juga bagian dari beberapa orang itu. Tapi tak pantas jika kita hanya menyalahkan saja. Perlu ada tindakan yang harus segera kita lakukan, sebelum ini semakin mendarah daging, dan dianggap wajar oleh semuanya...