Wahai jiwa yang lemah…
Telah berapa banyak kesombongan yang mengotori hatimu.
Telah berapa banyak riya dan ketakabburan yang hadir dan melekat di jiwamu…
Kau merasa paling suci…
Kau merasa paling sempurna…
Kau merasa telah memiliki setiap kebaikan yang seharusnya ada di tiap diri manusia…
Wahai jiwa yang lemah…
Dimana keikhlasan itu???
Kau mengatakan dirimu ikhlas ketika melakukan sesuatu…
Lantas kau tersenyum ketika seseorang memuji perbuatanmu…
Lalu masihkah itu ikhlas namanya???
Kau meyakinkan dirimu bahwa kau ikhlas menolong seseorang…
Lantas beberapa saat kemudian kau mengingat-ingat kebaikanmu kembali..
Lalu katakan padaku, masihkah ada ikhlas itu????
Wahai jiwa yang lemah…
Berapa banyak hak orang lain kau abaikan…
Merasa dirimu yang paling butuh perhatian
Padahal masalah yang kau hadapi begitu sangat kecilnya dibanding orang-orang yang direnggut haknya.
Kau yang mengatakan penting untuk memberikan perhatian kepada orang lain…
Tapi mana??? Saat sedikit saja cobaan datang kepadamu, kau langsung tak peduli.
Sibuk memikirkan dirimu dan nasibmu…
Sibuk mempertanyakan mengapa Allah menimpakan cobaan itu padamu…
Wahai jiwa yang lemah…
Betapa bangganya kau dengan semua yang telah kau raih…
Lantas berpura-pura bersikap rendah hati dihadapan orang lain…
Betapa angkuhnya dirimu!!!
Tak sadarkah kau???
Atau mungkin kau menikmatinya???
Padahal kebanggaan itu hanya sebagian kecil akibat usahamu…
Sisanya adalah rahmat dari Sang Pencipta…
Wahai jiwa yang lemah…
Kau bekerja dan berusaha demi meraih sesuatu…
Kau katakan ini untuk membahagiakan kedua orang tuamu…
Padahal di hatimu terbersit keinginan untuk mendapat pujian…
Merasa bangga kau lebih baik dari saudaramu yang lain…
Tersipu malu ketika dipuji sanak keluargamu…
Karena memang itulah yang sebenarnya kau cari…
Dan kau menikmatinya…
Wahai jiwa yang lemah…
Tak sadarkah kau dengan semua kelemahanmu itu??
Sudah berapa lama kau tak menangis dalam sujudmu krn lemahnya jiwamu??
Kau hanya sering menangis saat masalah menimpamu…
Padahal ini adalah masalah terbesarmu!!!!
Ketidaktulusan dalam dirimu…
Kesombongan dalam hatimu…
Ketidakpedulian dalam jiwamu…
Bahkan Rasul pun menangis di sujud-sujudnya…
Bahkan sahabatpun menangis setiap saat karena takut jika ada kesombongan dihatinya…
Kelalaian itu telah membutakan hatimu,kawan…
Kesombongan itu telah membekukan jiwamu…
Kumohon…kumohon sadarilah….
~Untuk yang berjiwa lemah, diriku…~
Tampilkan postingan dengan label My Opinion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Opinion. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 05 Februari 2011
Senin, 09 Agustus 2010
Hijab itu... Semakin Tak Terlihat
Tulisan ini hanya sepenggal curahan hati, yang mungkin meluap akibat rasa malu...
...................................................................
Saya tidak terlalu aktif untuk setiap kegiatan dakwah di lingkup kampus. Saya lebih merasa nyaman beraktifitas dan fokus pada dakwah di lingkup fakultas. Apalagi kegiatan di luar kampus juga menyita waktu. Jadi, kadang saya tidak berani mengambil amanah di luar fakultas karena takut tidak bisa mengatur waktu.
Tapi kali ini, karena kegiatannya di masa liburan, saya pun mengusahakan untuk ikut berpartisipasi, membantu sebisa saya.
Namun.... ada hal yang membuat saya kecewa...
Saya akui semangat teman-teman dalam bekerja luar biasa. Kadang saya malu ketika membandingkan diri saya yang tidak terlalu banyak berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Kalaupun saya ikut membantu, yah... paling hanya hal-hal kecil, yang tidak terlalu menuntut banyak pengorbanan.
Sms-sms yang sering saya dapatkan berupa kalimat penyemangat dalam dakwah, kata-kata seperti "Semangat,ukh!" atau "Demi dakwah!!" yang selalu diberikan untuk menyemangati satu sama lain, terdengar begitu hangat.
Tapi, sungguh saya harus kembali malu... bukan karena melihat semangat teman-teman yang begitu besar, atau karena menyaksikan pengorbanan teman-teman yang luar biasa, tapi saya malu... karena hijab itu semakin tak terlihat.
Saya agak kaget ketika baru saja datang ke tempat teman-teman bekerja. Rupanya tempat ikhwan dan akhwatnya cukup dekat. Saya langsung bertanya pada diri sendiri "Lho, koq dekat sekali?". Tapi saya mencoba berprasangka baik, "mungkin karena sama-sama menggunakan printer, jadi jaraknya tidak bisa terlalu jauh..."
Saya pun ikut bergabung di tengah-tengah akhwat yang lain. Mencoba membantu sebisa saya...
Namun tanda tanya semakin menggelayut ketika di depan mata, saya harus menyaksikan interaksi yang tak pantas dan tak wajar antara ikhwan dan akhwat. Senda gurau yang begitu lepas, tawa dan senyum yang dibiarkan begitu saja, dan kata yang menurutku tak pantas di ucapkan antara seorang ikhwan dan akhwat.
Tidak semuanya, tapi beberapa...
Andai saja di perkumpulan itu tak ada bahasa "akhi" atau "ukhti", dan perempuannya tidak memakai kerudung yang panjang, maka saya tidak akan tahu bahwa orang-orang didalamnya adalah manusia-manusia tertarbiyah...
Inikah yang selama ini kita dapatkan??? Kebebasan berinteraksi tanpa ada rasa malu. Lalu kemana hijab itu???
Sebegitu semangatnya kah kita dalam menjalankan amanah, hingga lupa akan esensi dari amanah itu sendiri?
Saya tidak menyesal berada di jama'ah ini, apalagi berfikir untuk lari. Tidak. Saya hanya malu dengan orang-orang di dalamnya.
Tidak semuanya, tapi beberapa...
Saya tahu, ada yang salah sejak awal. Dan kesalahan itu perlu kita benahi bersama. Mungkin kesalahan itu juga ada pada diri saya. Mungkin saja saya juga bagian dari beberapa orang itu. Tapi tak pantas jika kita hanya menyalahkan saja. Perlu ada tindakan yang harus segera kita lakukan, sebelum ini semakin mendarah daging, dan dianggap wajar oleh semuanya...
...................................................................
Saya tidak terlalu aktif untuk setiap kegiatan dakwah di lingkup kampus. Saya lebih merasa nyaman beraktifitas dan fokus pada dakwah di lingkup fakultas. Apalagi kegiatan di luar kampus juga menyita waktu. Jadi, kadang saya tidak berani mengambil amanah di luar fakultas karena takut tidak bisa mengatur waktu.
Tapi kali ini, karena kegiatannya di masa liburan, saya pun mengusahakan untuk ikut berpartisipasi, membantu sebisa saya.
Namun.... ada hal yang membuat saya kecewa...
Saya akui semangat teman-teman dalam bekerja luar biasa. Kadang saya malu ketika membandingkan diri saya yang tidak terlalu banyak berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Kalaupun saya ikut membantu, yah... paling hanya hal-hal kecil, yang tidak terlalu menuntut banyak pengorbanan.
Sms-sms yang sering saya dapatkan berupa kalimat penyemangat dalam dakwah, kata-kata seperti "Semangat,ukh!" atau "Demi dakwah!!" yang selalu diberikan untuk menyemangati satu sama lain, terdengar begitu hangat.
Tapi, sungguh saya harus kembali malu... bukan karena melihat semangat teman-teman yang begitu besar, atau karena menyaksikan pengorbanan teman-teman yang luar biasa, tapi saya malu... karena hijab itu semakin tak terlihat.
Saya agak kaget ketika baru saja datang ke tempat teman-teman bekerja. Rupanya tempat ikhwan dan akhwatnya cukup dekat. Saya langsung bertanya pada diri sendiri "Lho, koq dekat sekali?". Tapi saya mencoba berprasangka baik, "mungkin karena sama-sama menggunakan printer, jadi jaraknya tidak bisa terlalu jauh..."
Saya pun ikut bergabung di tengah-tengah akhwat yang lain. Mencoba membantu sebisa saya...
Namun tanda tanya semakin menggelayut ketika di depan mata, saya harus menyaksikan interaksi yang tak pantas dan tak wajar antara ikhwan dan akhwat. Senda gurau yang begitu lepas, tawa dan senyum yang dibiarkan begitu saja, dan kata yang menurutku tak pantas di ucapkan antara seorang ikhwan dan akhwat.
Tidak semuanya, tapi beberapa...
Andai saja di perkumpulan itu tak ada bahasa "akhi" atau "ukhti", dan perempuannya tidak memakai kerudung yang panjang, maka saya tidak akan tahu bahwa orang-orang didalamnya adalah manusia-manusia tertarbiyah...
Inikah yang selama ini kita dapatkan??? Kebebasan berinteraksi tanpa ada rasa malu. Lalu kemana hijab itu???
Sebegitu semangatnya kah kita dalam menjalankan amanah, hingga lupa akan esensi dari amanah itu sendiri?
Saya tidak menyesal berada di jama'ah ini, apalagi berfikir untuk lari. Tidak. Saya hanya malu dengan orang-orang di dalamnya.
Tidak semuanya, tapi beberapa...
Saya tahu, ada yang salah sejak awal. Dan kesalahan itu perlu kita benahi bersama. Mungkin kesalahan itu juga ada pada diri saya. Mungkin saja saya juga bagian dari beberapa orang itu. Tapi tak pantas jika kita hanya menyalahkan saja. Perlu ada tindakan yang harus segera kita lakukan, sebelum ini semakin mendarah daging, dan dianggap wajar oleh semuanya...
Minggu, 27 Desember 2009
Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya
Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.
Yap..itu adalah penggalan kalimat Pak Harfan di film Laskar Pelangi. Nggak tahu kenapa, tapi kalimat itu begitu mengena dalam kehidupanku.
Di antara banyak hal yang terjadi dalam hidupku, salah satu yang menyenangkan ialah jika aku bisa menyenangkan orang lain. “No joy can equal the joy of serving others”, hehe…. Melihat senyuman dari orang-orang yang kita sayangi adalah kebahagiaan tersendiri dalam hidupku. Oleh sebab itulah, aku selalu berusaha menjadi orang yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Yah…, minimal tidak menjadi benalu buat mereka.
Aku tidak mengharapkan pujian dan balasan untuk apapun yang kuberikan untuk orang lain. Karena ketika itu yang kuharapkan, maka kecewa yang akan kudapatkan. Pujian dari manusia sama sekali tidak ada untungnya bagiku. Itu hanya akan menambah ukuran kepala, dan balasan membuat hal-hal berikutnya yang aku lakukan tidak lagi se-ikhlas dulu. Aku hanya ingin menyenangkan orang lain, sebab sebaik-baik manusia ialah ia yang bisa bermanfaat bagi orang lain.
Pernah dengar hadits yang berbunyi seperti ini…??
“tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”
Hadits itu yang menjadi pegangan dalam hidupku yang menyangkut hubungan ku dengan orang lain, khususnya untuk mereka yang kucintai karena Allah. Aku akan merasa sangat menyesal jika di saat tak ada lagi kesempatan, aku belum memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk orang yang aku sayangi.
Tapi jangan kira aku melakukannya semata-mata hanya untuk orang lain, lantas tak ada gunanya untukku. Hoho…
Seperti hadits berikut ini…
“di antara tanda kebaikan keislaman seseorang ialah ia meninggalkan perkara yang tidak berguna baginya”
Dan jika dihubungkan dengan hadist lainnya…
“sesungguhnya setiap amalan itu bergantung dari niatnya…”
Maka jelas, jika suatu perkara dilakukan oleh seseorang yang nampaknya tidak ada gunanya bagi dirinya, maka hal itu belum tentu benar-benar tidak berguna. Sebab kita tidak tahu apa yang mendasari orang tersebut melakukannya. Kita tidak tahu apa tujuan sebenarnya seseorang melakukan sesuatu, sehingga hanya diri orang itulah yang tahu seberapa berguna apa yang ia lakukan.
Dan untuk segala hal yang kulakukan, tentu aku punya niat yang tidak saja agar bermanfaat bagi orang lain, tapi juga bermanfaat bagi diriku sendiri.
Lantas apa untungnya melakukan sesuatu untuk orang lain??? Yaahh…biarkan Allah yang menjawabnya. Yang jelas, aku hanya berusaha meniatkan segala hal yang kulakukan adalah semata-mata karena Allah, maka aku tak perlu buru-buru tahu manfaatnya untukku. Kubiarkan kehidupanku berjalan sesuai alurnya, sebab yang kupahami ialah bahwa aku tidak akan pernah mendahului takdir.
Yap..itu adalah penggalan kalimat Pak Harfan di film Laskar Pelangi. Nggak tahu kenapa, tapi kalimat itu begitu mengena dalam kehidupanku.
Di antara banyak hal yang terjadi dalam hidupku, salah satu yang menyenangkan ialah jika aku bisa menyenangkan orang lain. “No joy can equal the joy of serving others”, hehe…. Melihat senyuman dari orang-orang yang kita sayangi adalah kebahagiaan tersendiri dalam hidupku. Oleh sebab itulah, aku selalu berusaha menjadi orang yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Yah…, minimal tidak menjadi benalu buat mereka.
Aku tidak mengharapkan pujian dan balasan untuk apapun yang kuberikan untuk orang lain. Karena ketika itu yang kuharapkan, maka kecewa yang akan kudapatkan. Pujian dari manusia sama sekali tidak ada untungnya bagiku. Itu hanya akan menambah ukuran kepala
Pernah dengar hadits yang berbunyi seperti ini…??
“tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”
Hadits itu yang menjadi pegangan dalam hidupku yang menyangkut hubungan ku dengan orang lain, khususnya untuk mereka yang kucintai karena Allah. Aku akan merasa sangat menyesal jika di saat tak ada lagi kesempatan, aku belum memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk orang yang aku sayangi.
Tapi jangan kira aku melakukannya semata-mata hanya untuk orang lain, lantas tak ada gunanya untukku. Hoho…
Seperti hadits berikut ini…
“di antara tanda kebaikan keislaman seseorang ialah ia meninggalkan perkara yang tidak berguna baginya”
Dan jika dihubungkan dengan hadist lainnya
“sesungguhnya setiap amalan itu bergantung dari niatnya…”
Maka jelas, jika suatu perkara dilakukan oleh seseorang yang nampaknya tidak ada gunanya bagi dirinya, maka hal itu belum tentu benar-benar tidak berguna. Sebab kita tidak tahu apa yang mendasari orang tersebut melakukannya. Kita tidak tahu apa tujuan sebenarnya seseorang melakukan sesuatu, sehingga hanya diri orang itulah yang tahu seberapa berguna apa yang ia lakukan.
Dan untuk segala hal yang kulakukan, tentu aku punya niat yang tidak saja agar bermanfaat bagi orang lain, tapi juga bermanfaat bagi diriku sendiri.
Lantas apa untungnya melakukan sesuatu untuk orang lain??? Yaahh…biarkan Allah yang menjawabnya. Yang jelas, aku hanya berusaha meniatkan segala hal yang kulakukan adalah semata-mata karena Allah, maka aku tak perlu buru-buru tahu manfaatnya untukku. Kubiarkan kehidupanku berjalan sesuai alurnya, sebab yang kupahami ialah bahwa aku tidak akan pernah mendahului takdir.
Langganan:
Postingan (Atom)